Obat-obatan anxiolitik yang bekerja pada reseptor serotonergik
Teori serotonergik yang berkaitan dengan kecemasan menunjukkan bahwa transmisi serotonergik adalah mempengaruhi kecemasan, dan secara umum perangsangan dari sistem ini menimbulkan efek kecemasan, atau dengan kata lain bahwa penurunan aktivitas neuronal serotonergik juga mengurangi kecemasan.
Teori serotonergik mendukung pengembangan obat-obatan anxiolitik yang bekerja melambatkan transmisi neural serotonergik sementara tidak menyebabkan efek sedatif dan gerakan badan yang kurang terkoordinasi.
Agonist 5-hydroxytryptamine-1A
Buspirone adalah agonist serotonergik (5-hydroxytryptamine 1A; 5-HT1A).
Cara kerja: Inti dendrit raphe dari neuron serotonergik memiliki autoreseptor prasinaptik inhibitif dari subtipe 5-HT1A yang, ketika dirangsang, menurunkan pemicuan pada neuron 5-HT. Golongan agen-agen anxiolitik yang disebut azapiron ini dianggap mampu mengurangi transmisi 5-HT dengan bertindak sebagai agonist parsial pada reseptor-reseptor 5-HT1A. Buspirone adalah yang pertama dari kelas anxiolitik yang baru. Sumatriptan adalah juga demikian.
Cara pemberian: Oral.
Indikasi: Buspirone diperuntukkan bagi pemulihan jangka pendek pada gangguan kecemasan umum.
Kontraindikasi: Agonist 5-HT1A tidak boleh digunakan pada penderita epilepsi.
Efek-efek samping: agonist 5-HT1A dapat mengakibatkan gugup, pusing, sakit kepala, dan kepala terasa melayang.
Dibandingkan dengan benzodiazepin, buspirone tidak menyebabkan kerusakan kognitif atau menimbulkan efek sedatif, dan ia hanya membawa risiko minimal berupa ketergantungan obat atau ketagihan. Ia tidak menguatkan efek alkohol.
Catatan terapi: efek anxiolitik dari buspirone secara bertahap berubah dalam jangka waktu 1-3 minggu berikutnya.
Antagonist 5-hydroxytryptamine 3
Ondansetron adalah antagonist reseptor 5-HT3 yang cocok untuk dipakai sebagai obat antiemetik. Ondansetron juga memiliki sifat anxiolitik oleh karena sifat antagonisnya pada reseptor 5-HT3 paskasinaptik yang bersifat pemicu.
Penghambat beta-adrenoreseptor
Penghambat beta-adrenoreseptor, misalnya propranolol, dapat sangat efektif untuk meringankan beberapa gejala somatik dari kecemasan yang disebabkan oleh gugahan simpatik, misalnya berkeringat berlebih, badan gemetar, tremor, dan diare.
Cara kerja: penghambat β bertindak secara antagonis pada β-adrenoreseptor sehingga pelepasan katekolamin yang berlebih tidak mengakibatkan respon simpatik berupa tachycardia, berkeringat, dll.
Penghambat β juga dipakai untuk penyakit kardiovaskuler.
Cara pemberian: Oral.
Indikasi: penghambat β ditujukan bagi pasien yang mengalami gejala-gejala yang kecenderungan somatik; ini diharapkan akan mampu mencegah kemunculan rasa kuatir dan takut. Pasien dengan gejala-gejala yang kecenderungan bersifat kejiwaan tidak akan beroleh manfaat dari pemakaian penghambat β. Akan tetapi agen ini bisa bermanfaat untuk mengatasi fobia sosial dan mengurangi kecemasan demam panggung bagi para musisi, atau bagi mereka yang membutuhkan pengendalian motorik halus.
Kontraindikasi: penghambat β tidak boleh dipakai oleh pasien asma atau gagal jantung.
Efek-efek samping: penghambat β dapat mengakibatkan bradycardia, gagal jantung, kejang bronkus, dan vasokonstriksi periferal.
Barbiturat
Barbiturat adalah tergolong obat yang menekan sistem syaraf pusat, yang bersifat non-selektif dan dapat membawa efek sedatif dan penurunan kecemasan, atau bahkan bisa mengakibatkan kehilangan kesadaran (pingsan) dan kematian oleh karena kegagalan pernafasan dan kardiovaskuler. Barbiturat meningkatkan hambatan dengan perantaraan GABA, dengan bekerja pada reseptor yang sama seperti benzodiazepin, meskipun situs targetnya berbeda.
Pada dosis rendah, barbiturat memperpanjang durasi atau lama waktu dari pembukaan setiap kanal Cl- yang dipicu oleh stimulus GABA tertentu (benzodiazepin makin membuat kanal CI- sering terbuka). Pada dosis tinggi, ia akan berefek lebih menekan sistem syaraf dibanding benzodiazepin oleh karena ia mulai secara langsung meningkatkan daya hantar ion CI- , sehingga menurunkan derajat kepekaan membran post-sinaptik terhadap setiap transmiter pemicuan (eksitatif).
Walaupun obat ini populer sebelum dasawarsa 1960-an sebagai agen sedatif/hipnotik, ia kini tergolong "tidak zaman lagi" oleh karena ia membawa efek ketergantungan fisik dan psikologis, dan sedikit saja kelebihan dosis dapat berakibat fatal. Sebaliknya benzodiazepin, yang kini telah menggantikan hampir seluruh peran barbiturat sebagai agen sedatif/hipnotik, dapat dikonsumsi secara overdosis luar biasa tanpa menimbulkan efek jangka panjang yang serius.
Barbiturat masih penting digunakan dalam anestesi dan juga (walaupun sedikit) pada perawatan epilepsi.
Agen lain-lain
Ada sejumlah agen hipnotik lainnya yang telah dipakai selama ini, dan juga dalam kondisi tertentu masih diresepkan.
kloral hidrat dan turunannya
Kloral hidrat mengalami metabolisme menjadi trichloroethanol, yang merupakan agen hipnotik yang efektif. Harganya murah, tetapi dapat menyebabkan iritasi lambung dan belum ada bukti yang meyakinkan bahwa ia lebih unggul manfaatnya dibanding the benzodiazepin yang baru.
Kloral hidrat dan turunannya dahulu adalah agen hipnotik yang populer untuk anak. Akan tetapi para ahli zaman sekarang berpikir bahwa agen hipnotik sebaiknya tidak digunakan pada anak, sehingga obat jenis ini kini sangat terbatas penggunaannya.
Clomethiazole (klormetiazol)
Clomethiazole mungkin dapat digunakan sebagai agen hipnotik yang bermanfaat bagi orang lanjut usia oleh karena mereka relatif bebas dari efek ketidaknyamanan. Ia tidak mempunyai keunggulan atas benzodiazepin pada pemakaian untuk orang dewasa muda.
Clomethiazole semula digunakan untuk meredakan gejala-gejala ketagihan alkohol akut, meskipun kini ia telah tergantikan oleh benzodiazepin chlordiazepoxide.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar